Catatan Dari Alexandria

Pagi ini agak lain. Selesai subuhan tidak lagi nerusin mimpi seperti biasa ☺. Saya sambar celana dan kaos kusut, masuk ke kamar sebelah. Numpang nyetrika. Nunggu setrika panas, saya seduh coffe mix. Lumayan, buat mengusir keinginan nyamperin kasur. Karena kalau hal itu terjadi, akan hancur rencana hari ini...

Yup. Hari ini kami ada janji dengan seorang seniman, kaligrafer dan designer grafis dari Alexandria (Iskandariah), Yousry Hassan. Itu sebabnya, hari ini kami berempat berencana berangkat jam 07.00 pagi. Selain perjalanan yang lumayan jauh, kami juga belum tau pasti rumah yang akan kami tuju. So, segala acara dan janji hari ini terpaksa kami cancel. Afwan... 􀀯
Rencana berangkat jam 07.00 molor. Seperempat jam setelah itu 2 rekan datang ke kamar. Siap sedia. Sementara, saya sendiri belum mandi, hiks. Baru setengah delapan kami bertiga keluar kamar,langsung miscall satu kawan lagi. Hp-nya mati! Alamak... begitulah, setelah kesana-kemari dan diakhiri dengan session mengambil sarapan dua telur rebus di dapur, kami akhirnya menuju halte bus. Waktu hampir menunjukkan pukul delapan!


Kereta ato bus yach?!
Angkot jurusan Ahmad Hilmi yang kebetulan longgar mengantar kami hingga terminal yang terletak di belakang stasiun Ramsies. Hampir setengah jam di jalan, diskusi singkat berlangsung. Akankah naik kereta, atau cari bus? Setelah rapat dengar, kami sepakat naik kereta. Dengan semangat kami menuju loket. “Kereta ke Alexandria berangkat pukul sembilan pagi, harga satu tiket 30 pound,” demikian si penjaga bilang. Whaaa... mahal banget. Usut punya usut ternyata kami di loket kereta kelas dua yang lumayan bagus (bisnis kali). Kami akhirnya pindah ke loket kelas ekonomi 􀀯. Harga tiket 9.5 pound. Namun kembali diskusi kecil kami gelar. Karena ternyata kereta ekonomi baru berangkat nanti jam 11.00 nanti. Dan perjalanan menyita waktu sekitar 4 jam! Bisa-bisa kami terlalu sore sampe tempat....

Dengan azas mufakat, kami putuskan balik ke loket kelas dua. Cerita selanjutnya malah lucu, karena penjaga loketnya yang menolak. Alasannya kereta 5 menit lagi mau berangkat dan tiket nggak bisa kembali. Kita terlalu mepet pesan ticket. Setelah setengah ngotot dan kami janji mau lari ke kereta, akhirnya empat tiket seharga 120 pound jatuh ke tangan juga. Seorang penjaga berteriak menyuruh kami lari, ketika kereta di jalur satu sudah siap meluncur. Baru kali ini saya lari-lari mau naik kereta. Jadi bisa sekarang bisa membayangkan, nggak enaknya orang ketinggalan kereta!


Nice journey!
Alhamdulillah, akhirnya kami berhasil menemukan tempat duduk, tepat sebelum stasiun kelihatan menjauh. Tempat duduk kami di gerbong enam. Lumayan penuh namun kelihatan bersih dan nyaman. Bangku sengaja kami putar berhadapan, biar leluasa ngobrol dan mempersiapkan materi buat menguras ilmu-nya pak Yousry ☺.

Tapi begitulah, bukannya ngobrol serius, malah kita saling kasih komentar hal-hal yang terlihat di jalan. Maklum, kami sama-sama lama nggak naik kereta. Pun snack yang kami beli, menambah enaknya ngobrol tanpa judul itu. Hampir dua puluh menit, kereta sudah jauh keluar kota Kairo. Terlihat kemudian hamparan kebun dan sawah yang bikin ingat rumah (wah mulai nelongso nih). Kebun jambu, jeruk, dan macam-macam tumbuhan kelihatan subur menghijau. Memang musim sedang berganti. Musim dingin di ambang pintu. Sepanjang jalan kami lihat sawah-sawah sudah mulai digarap. Banyak kerbau, sapi, kambing dan alat2 bajak yang ngangeni. Indah.

Seorang kawan berkomentar, kalau naik kereta seperti gini enak. Selain tempat duduk lebih longgar, kita juga bisa bisa menikmati pemandangan yang jarang terlihat ketika naik bus. Kita juga bisa bernostalgia dengan suasana kampung halaman. Dalam hati, saya menduga kalau dia lagi kangen kerbau-nya hahaha... lha wong yang banyak kelihatan di luar adalah kerbau, kambing, sapi dan kawan-kawannya.

Saya sendiri, perjalanan itu tergantung dengan siapa kita jalan, ehm..ehm.. Jika sekarang saya sekeluarga naik kereta ke Alexandria. Wuih, tentu rame dan seru! Lantas saya cerita macam2 di jalan. Tentang Mesir, Azhar, Kairo, Alexandria dan macam-macam lagi. Bayangannya seru! Kemudian hayalan saya ganti settingnya. Seandainya sekarang kami tidak berempat, namun hanya berdua. Tentu saya berharap perjalanan ini akan terasa lebih cepat ☺. Dan yang jelas, saya nggak akan bisa berhenti bercerita hehe... Untungnya, saya sadar, karena saya dapati kawan duduk saya nggak berubah, dan masih makan snack!.  Caape’ dech! Memang, membayangkan yang nggak-nggak bakal rugi ☺! Tuing! Hayalan2 itu pun saya buang jauh2. Mendingan perjalanan ini saya gunakan untuk istirahat. Maklum, semalam jam tiga baru bisa tidur.

Kesan pertama....
Tepat setelah dua jam di perjalanan, kereta akhirnya berhenti di stasiun Sidi Gaber (Sayyid Jaabir), Alexandria. Tepat pukul 11.05 kami sudah berada di luar stasiun yang lumayan besar tersebut. Seorang kawan akhirnya menelpon Pak Yoursy. Mengabarkan bahwa kami telah sampai Alex. Sekaligus tanya rute untuk bisa ke rumah beliau. Tapi ternyata, kami disuruh menunggu sekitar 20 menit di depan stasiun, karena beliau sendiri akan langsung menjemput kami.

Agak lama juga kami menunggu, hingga muncul sedan biru muda metalik. Sosok yang berwibawa dan penampilan rapi keluar sambil memanggil ke arah kami. “Ya ‘Aalim, ta’aala” beliau memanggil nama salah satu di antara kami, yang beliau kenal sewaktu pembukaan pameran di Sa’ad Zaghlul bulan yang lalu. “Ahlan wa sahlan... nawwartum Iskandariah. Tasyarrafna bi majiikum. Kaifal hall,
kaifal akhbar...” dan sederet kalimat2 pembuka buat basa-basi yang kadang perlu. Setelah salaman dan memperkenalkan diri seperlunya, kami dipersilahkan masuk mobil. Stasiun Sidi Gaber pun terlihat menjauh, dan kami sudah berada di tengah hiruk pikuk kota Alexandria siang itu....

Sepanjang jalan, tidak berhentinya beliau mengungkapkan rasa senang beliau atas kedatangan kami. Ahlaan... marhaban... alhamdulillah... kaifal haal.. dan seterusnya. Beliaupun bertanya tentang studi kami. Tentang fakultas, tingkat, jurusan, dan juga tentang belajar kami di madrasah kaligrafi di Mesir. Alhamdulillah, tidak lama setelah itu, suasana pun mulai cair. Obrolan di dalam kendaraan pun akhirnya semakin hangat. Ketika melewati tempat tertentu, tidak lupa beliau menerangkan nama dan asal-usulnya. Maklum, beliau asli penduduk Iskandariah. Lahir, tumbuh dan menetap di sana.



Pribadi yang semanak dan grapyak.
Sebenarnya kami merasa gak enak (sungkan) dengan Pak Yousry. Ya, karena kami tau kapasitas beliau yang sibuk di mana-mana. Tidak kepikiran bahwa beliau segitunya menghormati tamu-tamunya. Namun karena pribadinya yang semanak dan ramah. Kami seolah-olah berada di rumah sendiri ☺.

Di awal perjalanan, kami lebih banyak mendengar beliau yang menerangkan nama-nama tempat dan sesekali pula memberi tahu designer beberapa gedung yang ada di sana. Dari mulai daerah Ibrahimiah, Raml, Maidan Sa’ad Zaglul, Maidan Mansyea, serta monument Al-jund al-Majhuul (Pahlawan tak dikenal) dan Perpustakaan Alexandria (Bibliotheca Alexandrina), hingga akhirnya kami sampai Mantiqah Bahriy. Daerah ini mempunyai pemandangan khas yang tidak ada di tempat lain. Kapal-kapal kecil nelayan bertebaran memenuhi pinggiran pantai. Warna-warni kapal dipadu background langit kebiru-biruan melahirkan kesan yang lumayan artistik. Alami dan cantik! Belum lagi, dari sini kami juga bisa menikmati benteng Qitbay berdiri kokoh tidak jauh dari masjid.



Alexandria memang kota yang menawan!
Masih di daerah yang sama, berdiri masjid yang beberapa tahun yang lalu baru dipugar. Terlihat ornament model fathimiyah dan kaligrafi corak tsulust dan beberapa kaligrafi gaya bebas, memenuhi dinding dan atap masjid. Masjid Manarul Islam. Di sini, kami melepas lelah sebentar dan menunaikan sholat dzuhur dan ashar, jama’ taqdim.

Selesai sholat, kami jalan-jalan santai di sekitar benteng Qitbay. Angin yang datang dari laut, semakin membuat dingin hawa Alexandria yang memang sudah dingin. Sepanjang jalan, banyak terlihat penjual cenderamata, wisatawan domestik maupun mancanegara, dan beberapa orang yang asyik memancing. Obrolan kami sambil jalan-jalan membuahkan pengetahuan baru tentang sejarah kaligrafi, zuhrufah, hubungan antara keduanya, serta banyak hal yang berkaitan dengan pekerjaan beliau sebagai designer grafis. Terkesan, tidak ada yang beliau tutup-tutupi. Apapun yang kami tanya, beliau berusaha menjelaskannya sedetail mungkin. Seolah kami sudah kenal lama dan bukan siapa-siapa lagi. Ya, beliau adalah sorang yang semanak dan grapyak. Hal itulah yang kemudian membuat kami tidak lagi merasa sungkan dan risih untuk mengorek ilmu lebih banyak...



Es krim Makrom
Jalan-jalan siang kami masih berlanjut. Keluar dari kawasan benteng, kami belok ke arah kanan. Setelah berjalan beberapa ratus meter, sampailah kami di Halaqatus Samak (tempat pelelangan ikan). Tempat ini lumayan besar dan masih lumayan ramai. Karena memang, nelayan dan pembeli melakukan transaksi jual beli ikan di sini ☺. “Jika ingin melihat puncak kesibukan, kita bisa datang antara subuh hingga jam delapan pagi” demikian ujar Pak Yousry kepada kami.

Sepanjang jalan kali ini, kami banyak mendapat ilmu tentang taqhir kertas (proses pengolahan kertas sebelum ditulisi khot). Biasanya masing-masing kaligrafer mempunyai rahasia sendiri dalam seni ini. Seperti campuran bahan-bahan alami dengan pewarna tertentu, sehingga menghasilkan kertas yang terkesan antik. Biasanya, taqhir ini tidak jauh dari penggunaan putih telor dalam finishing-nya.

Karena itu, kertas yang sudah melalui proses ini, lebih mudah ditulisi. Dan khattath pun lebih leluasa mengoreksi karya jika salah. Karena putih telor menghalangi tinta menyatu dengan kertas, di samping memberi kesan berkilau. Begitulah memang, rahasia karya seorang kaligrafer, salah satunya terletak di medianya (kertas). Jika bagus pengolahan media maka karya yang dihasilkan akan bagus pula. Di sini keterampilan dalam seni taqhir mengambil peran pentingnya.

Obrolan kami semakin seru ketika pak Yousry mengajak kami mampir makan ruz bil-laban dicampur minum es-krim, di sebuah warung es-krim terkenal bernama Makrom. Ruz bil-laban adalah sebutan bagi makanan yang terbuat dari nasi dicampur susu. Dengan pengolahan yang tepat, jadilah nasi bubur nasi bercampur susu manis yang nikmat. Menurut beberapa kawan, sesekali beli makanan ini bisa memperbaiki gizi ☺. Tidak berlebihan memang, karena jika sudah merasakan, bisa jadi anda pun akan ketagihan. Begitupun dengan kami, apalagi kali ini, ruz bil-laban di meja depan yang siap disantap, dikemas dalam satu tempat dengan es-krim vanilla. Wow..wow.. hehehe.


Sowan ke rumah Pak Asran Mansiy
Selesai 'ngemil' di makro, kami diantar ke rumah seorang empu kaligrafi murni Alexandria. Saya katakan demikian, karena memang beliau salah satu putra terbaik madrasah khututh Iskandariah. Madrasah khat tertua di Iskandariah yang didirikan oleh khattath Muhammad Ibrahim dan diteruskan oleh saudaranya khattath Kamil Ibrahim. Bisa juga disebut madrasah ini desebut madrasah legendaris yang telah menelorkan khattath-khattath andalan. Termasuk pak Asran Mansiy dan pak Yoursy Hassan sendiri.

Rumah pak Asran terletak di lantai tiga sebuah flat di gang kecil yang lumayan sulit dijangkau. Jika tidak diantar, bisa jadi kami tidak bisa menemukan flat ini. Rumah kecil dan terlalu sederhana untuk seorang khattath kenamaan seperti pak Asran. Hanya ruang tamu kecil yang berdindingkan karya-karya beliau, ruang makan, dapur, kamar mandi dan satu kamar tidur. Berlima kami bertamu, terasa sudah sangat sempit.



Sekali lagi kami merasa beruntung. Keinginan ke Alexandria sebenarnya ingin bertemu pak Yousry saja. Tidak terbersit sedikitpun untuk mengunjungi khattath atau tempat lain. Namun rupanya, pak Yousry sudah mempunyai rencana sendiri untuk 'menjamu' tamu-tamunya. Begitulah, seperti kali ini, beliau bilang ke pak Asran, bahwa kedatangan kami jauh dari Kairo ke Alexandria, sengaja untuk silaturahmi dan 'berguru' kepada pak Asran. Kontan, sambutan super hangat dari khattath yang kini berusia 73 tahun itu kami terima. Bincang-bincang akrab pun segera berlangsung. Sekitar dua puluh menit –tepatnya setelah disuguh minuman- kami izin pulang. "Masih ada tempat lain yang akan kita kunjungi" demikian alasan pak Yousry kepada tuan rumah, ketika kami pamit undur diri.

Jamuan Makan Sore di Rumah Sang Seniman
Sebenarnya, target kami selanjutnya adalah khattath Ibrahim Masry. Beliau juga kaligrafer yang lahir dari madrasah Iskandariah. Lebih istimewa lagi, beliau adalah keponakan pendiri madrasah khot Iskandariah, Muhammad Ibrahim. Usia pak Ibrahim tidak terpaut jauh dari pak Asran. Selain itu, nilai plus beliau yang lain adalah kepiawaian beliau dalam dunia seni ornament, hingga sebuatan muzahrif (ahli ornament), identik dengan bapak satu ini ☺.

Namun terpaksa kami teruskan perjalanan, karena beliau sedang tidak di tempat. Toko kecil di sebuah gang kecil itu telah tutup. Dari luar, terlihat bekas cat yang menempel di beberapa bagian dinding toko. Meskipun agak kecewa, namun cukuplah kali ini kami mengunjungi tokonya saja

Setelah sholat ashar, kami meluncur ke arah jalan Musthafa ‘Ibadi yang terletak di bilangan Mahram Bik. Tepatnya di sebuah imarah (gedung) bernama al-Mubarkiah. Di sinilah, kantor usaha beliau “Arabasic Design” bermarkas. Tidak jauh dari kantor, tepatnya di sebelah kanan lift di lantai yang sama, rumah beliau berada. Pertama kali, kami diajak ke kantor beliau yang ketika itu masih lumayan ramai. Kami pun berkenalan dengan beberapa staff yang sedang masuk kerja. Di antara mereka bekerja sebagai web designer, web programmer, designer grafis. Lumayan lama juga kami ngobrol dengan beberapa staff, sambil melihat karya-karya kaligrafi yang terpampang rapih di dinding kantor. Selain karya pak Yousry Hassan, beberapa karya yang terpampang di dinding adalah kaligrafi murni corak jali tsulust dengan tinta hitam di atas kertas karton bertuliskan “almulku
lillah wahdah”. Melihat dari tauqi’ (tanda tangan) yang ada, kami tahu bahwa itu adalah karya kaligrafer Iskandariah, Ahmad Saqar. Kaligrafer ternama sekaligus ahli kimia. Karya-karya beliau yang lain, sempat saya nikmati di pameran kaligrafi tahunan Opera House tahun 2005 yang lalu.

Puas melihat-lihat lukisan, kami dipersilahkan masuk ruang pribadi pak Yoursy. Kami disuguhi video dokumentasi pembuatan karya-karya beliau yang memakai media air brush di atas kertas karton. Sekitar sepermpat jam, kami dipanggil ke luar. “Sa urikum asy-ya`an ukhraa... ta’ala...” (saya akan tunjukkan sesuatu yang lain, mari ikut saya). Dan benar, kami diajak ke rumah beliau.

Rumah itu terkesan besar. Tata ruang yang dibuat seleluasa mungkin membuat kami merasa nyaman ☺. Beberapa lukisan kaligrafi kufi khas ‘madzhab’ pak Yousry bertengger di beberapa bagian tembok, dengan tetap menjaga keserasian tempat. Tidak lama setelah kami duduk, seorang gadis kecil berlari keluar dari dalam rumah. Minah, putri pak Yousry yang berumur sekitar 4 tahun menghampiri kami dengan muka ceria. Kami pun lantas cepat akrab dengan anak kecil ini. Dari gerak-geriknya terlihat dia anak ceria dan cerdas. Dan begitulah, tidak lama kami pun bergantian menggodanya hingga berlarian keliling ruang depan. Sementara dari dalam, terdengar suara anak laki-laki sedang menangis. Putra pak Yousry pertama, Muhammad rupanya sedang ngambek. Sedang putra beliau terakhir Ahmad, kini masih berusia dua bulan. Sedang bersama Ibunya di kamar....

Begitu masuk, kami dipersilahkan cuci tangan dan langsung menuju ke meja makan. Ayam goreng, kuah daging, sayur buncis dicampur tomat serta beberapa lalapan sayur segar siap kami santap. Waktu terus beranjak, maghrib sebentar lagi menjelang...

Acara makan tidak luput dari sharing ilmu. Kuliah singkat dan diskusi ringan kami gelar. Sesekali ayam di tangan menjadi selingan. Topik-topik seputar politik kini menjadi tema menarik. Apalagi hal ini –meskipun agak jauh- masih ada hubungan dengan perkembangan seni kaligrafi khususnya, dan peradaban masyarakat setempat pada umumnya. Sesekali saja, beliau berkomentar tentang peran pemerintah. Topik selanjutnya, banyak membicarakan keadaan umat Islam di tanah air, Indonesia tercinta. Meskipun kadang membosankan, memang topik ini selalu menjadi obrolan hangat bagi mereka yang baru kenal dengan orang Indonesia. Ya, sebisanya pertanyaan beliau kita jawab dengan jujur. Apa adanya....

Selesai makan kami disuguhi jus jambu lalu disusul syai (teh) panas. Ketika itu, adzan maghrib berkumandang. Sambil menghabiskan teh, kami membicarakan salah satu karya beliau yang dihasilkan dari seni air brush. Karya ini merupakan konstruksi ulang dari sebuah karya klasik yang telah berusia 800 tahun. Sebuah karya pahat dengan ornament yang dekat kepada corak kristen, namun bertuliskan ayat al-Qur’an, surat at-Taubah ayat 111 “Innallaha isytaraa minal
mu’miniina anfusahum wa amwaalahum, bianna lahumul jannah”. Karya ini beliau tulis ulang dengan media cat memakai air-brush di atas kertas putih. Hanya saja, kesalahan dari segi imla’ yang ada dalam karya tua tersebut, memaksa beliau untuk melakukan permbenahan. “Karena bagaimana pun kesalahan penulisan al-Qur’an tidak bisa dibiarkan”. Demikian alasan beliau. Begitu pun corak ornament yang dekat kepada ornament kristen, sedikit beliau tambah dan kurangi. Sebuah pembenahan kongkrit yang mudah-mudahan akan terus berlanjut...



Madrasah Kaligrafi Mahmud Zaki Salim
Selepas nge-syai, kami sholat magrib berjamaah, dilanjutkan sholat isya’ jamak taqdim. Setelah menyerahkan sekeping DVD berisi beberapa rekaman video plus file kaligrafi lainnya, kami diajak beliau kembali turun dari apartement. “Jika nanti ada waktu, kita kembali ke kantor lagi. Akan saya copykan beberapa file lain yang belum sempat tercopy. Sekarang, kita akan berkunjung ke Madrasah Khot Mahmud Zaki Salim” demikian ujar pak Yousry sejenak sebelum kami keluar rumah.

Madrasah Khot Mahmud Zaki Salim baru berdiri tiga tahun yang lalu. Pak Yousry sendiri termasuk pemrakarsa madrasah ini. Wajar, di umurnya yang masih belia, madrasah ini terlihat banyak sekali peminatnya. Sesuai dengan umurnya pula, kelas tertinggi di madrasah ini adalah kelas tiga. Sementara kelas empat –sebagai kelas tertinggi- di jenjang diplom khot belum ada. Apalagi kelas diplom takhossush yang ada setelah jenjang diplom.

Lokal madrasah Khot "Mahmud Zaki Salim" menempati gedung yang setiap pagi dipakai untuk Madrasah Tsanawi Banat (setingkat SMA, khusus putri). Gedung tersebut masih terlihat bagus dan lumayan layak ☺. Kondisi ini agak jauh jika kami bandingkan dengan kondisi fisik Madrasah kami di Kairo, Madrasah khot "Kholil Agha". Madrasah yang tiap paginya dipakai untuk SMA khusus putra ini, terbilang sudah tua. Beberapa bagiannya sudah sangat sering ditarmim (dipugar) untuk tetap menjaga kondisinya biar layak pakai ☺. Kira-kira demikian.

Kembali ke Madrasah "Mahmud Zaki Salim", lagi-lagi sambutan hangat kami terima dari kepala sekolah setempat dan para guru. Kami sampai di lokasi sekitar jam 18.30. ketika itu proses belajar mengajar masih berlangsung. Padahal di Kairo, madrasah kami biasanya bubar ketika jam 18.00. Ternyata memang madrasah Mahmud Zaki Salim mulai ketika jam 17.00, sementara di Kairo, kami masuk kelas jam 16.00.

Begitulah, kami akhirnya diperkenalkan oleh pak Yousry kepada kepala sekolah para pengajar yang ada. Satu persatu kelas pun kami masuki. Di kelas satu, kami melihat papan tulis penuh denga tulisan huruf ba' yang disambung dengan beberapa huruf awal hijaiyyah, lengkap dengan mizan nuqtah (ukuran huruf dengan besar titik) yang lumayan bagus. Rupanya memang madrasah ini masih baru mulai pengajaran beberapa minggu yang lalu. "Tidak seperti di Kairo, kita tidak bisa memulai pengajaran ketika Ramadhan, karena padatnya kegiatan para siswa dan dikarenakan sikon ada" demikian lanjut salah seorang guru yang kami tanya sejak kapan dimulai pengajaran untuk tahun ajaran ini. Murid-murid yang hadir lumayan banyak. Baik itu putra maupun putrid ☺. Mereka pun terlihat antusias (karena melihat kami mungkin ☺). Jika sekilas melihat umur, mereka adalah mahasiswa-mahasiswi Perguruan Tinggi yang ada di sekitar daerah situ.

Selanjutnya, kami masuk kelas dua. Seperti seorang pejabat yang sedang mengadakan sidak saja, kami sempat membuat situasi kelas berubah (maksudnya dari khusyu' menjadi gak konsentrasi hehe). Mungkin karena kami orang asing yang jarang mereka lihat di sekolah mereka. Belum lagi, karena ada salah seorang di antara kami yang tampangnya lumayan imut..hahaha (maunya narsis). Yang jelas body kami yang kecil di banding mereka, mungkin mengundang pertanyaan. Min gama'ah dul, wa fi eh, humma gaiyin?!.. (siapa mereka ini, dan untuk apa datang ke sini?) mungkin begitulah pertanyaan di hati mereka, wah ge'er nih ☺.

Hampir sama dengan kelas satu, materi kelas dua juga khot tsuluts. Mungkin karena jadualnya dibuat seperti itu. Hanya saja, tulisan di papan tulis sudah berbentuk tarkiibaat (susunan) huruf-huruf dari ayat al-Qur'an.



Selanjutnya, kelas terakhir yang kami masuki adalah kelas tiga. Pertama kami masuk kelas ini, kami dikenalkan dengan bu guru yang mengajar zahrafah. Tepatnya bu Rania. (afwan, kalau nama bu guru ini saya hafal, sementara pak guru di dua kelas sebelumnya tidak ada yang saya ingat ☺). Yup, pelajaran kelas tiga kali ini adalah zahrafah (ornament). Wajah-wajah yang ada pun terlihat beda dari dua kelas sebelumnya. Jika yang tadi terlihat wajah-wajah segar dan semangat, maka di kelas ini, yang mendominasi adalah wajah-wajah tua yang juga bersemangat!. Di bangku tengah paling depan, saya lihat bapak-bapak yang sudah berambut putih (untuk tidak mengatakan kakek2). Dengan telaten-nya beliau menggambar bur'um (bentuk pentolan di tengah bunga atau ranting ornament) dan juga rubath (garis yang menghubungkan dua ranting ornament yang berdekatan). Sementara di pojok kelas, terlihat dua orang 'tua' juga sedang ngobrol akrab. Salah satu-nya adalah mantan pegawai bank yang sudah dinon-aktifkan.

Seperti di dua kelas sebelumnya, kami diminta oleh Pak Yousry untuk mengenalkan diri kepada segenap warga kelas. Memang beliau benar-benar punya skenario khusus bagi kami. Begitu masuk kelas, pelajaran langsung kacau. Bu guru pun minggir. Dan kelas diambil kendali oleh pak Yousry untuk sementara waktu. Dengan bahasa yang enak, seperti ngobrol dengan kawan sendiri, Pak Yousry menjelaskan bahwa kami yang dari jauh (dari Indonesia) datang ke Mesir untuk belajar kaligrafi di Kairo. Tepatnya di Madrasah Kholil Agha. Selain itu –dengan kalimat hiperbolis- beliau memuji ilmu agama kami, dikarenakan kuliah di al-Azhar. Bahkan salah satu di antara kami (om bayok)
sudah berhasil menyelesaikan strata satu-nya di fakultas Ushuluddin jurusan Akidah dan Filsafat.
Sekali lagi, rupanya beliau memanfaatkan waktu kali ini untuk memberi motivasi kepada kami (tamunya) maupun kawan-kawan di Madrasah. Beliau pun menceritakan bahwa perjalanan Kairo-Alexandria bukan perjalanan singkat. Intinya jauh serta butuh biaya dan waktu. Namun demi ilmu, seorang wafidin (pelajar luar) tidak menghiraukan itu semua. Ya, seolah-olah kami benar-benar orang yang haus ilmu dan mempunyai keinginan yang sangat tinggi untuk belajar kaligrafi (memang iya sih, tapi nggak segitunya☺).

Hampir 20 menit kami di kelas, seorang kawan mesir membawakan empat botol minuman 7-up. Karena menghormati tuan rumah, kami yang sebenarnya tidak terlalu haus, menghabiskan minuman botol tersebut. Sambil menghabiskan minuman, beliau memperkenalkan kepada kami beberapa murid yang ada di kelas tiga. Pak Yousry juga berkomentar bahwa dua tahun lagi, murid-murid di kelas ini akan menjadi guru dan pengajar kaligrafi di sekolah yang sama. Kontan, disambut oleh senyuman dan kata-kata "ya rabb…"

Semakin malam, semakin hangat kebersamaan kami di sekolah ini. Seolah-olah madrasah ini seperti madrasah kami juga. Para guru pun kelihatan antusias menjawab bebepa pertanyaan yang kami lontarkan. Entah lah, mungkin karena hoby dan kecintaan kita yang sama akan seni kaligrafi, seolah-olah kita pun sudah akrab sejak lama. Dan hatipun terasa berat untuk beranjak keluar gerbang madrasah, ketika Pak Yousry mengajak kami untuk segera pulang.

Satu corak yang kami dapatkan dari madrasah ini, adalah pengajaran khot diwaniy. Khot diwaniy di madrasah Mahmud Zaki Salim, dan mungkin juga di madrasah Iskandariah yang lain, melestarikan corak diwaniy Turki. Sementara madrasah kami di Kairo, mengajarkan diwaniy Ghazlany (Mesir). Juga semangat belajar murid-murid di madrasah ini, lebih tinggi jika dibandingkan dengan madrasah kami di Kairo. Namun satu yang membuat kami bangga, jika dilihat dari kualitas pengajar dan guru yang ada, kami yakin bahwa madrasah Kholil Agha masih berada di atas madrasah2 lainnya…. (ujung2nya narsis pisan☺)



Pameran Kaligrafi di Qasr at-Tadzawwuq
Usai silaturahmi dari Madrasah Mahmud Zaki Salim, mobil yang kami tumpangi melaju ke arah Sidi Gaber. Tepatnya ke sebuah gedung yang terdapat hall besar bernama Qasr at-Tadzawwuq. Jika dilihat dari fungsinya –sebagai tempat pameran seni- mungkin tempat ini bisa disamakan dengan Markaz el-Jazira dan Saqiyah el-Sawiy yang ada di Zamalek, atau Markaz Tal'at Harb di Sayyidah Nafisah.

Bermula dari kekaguman.
Kunjungan ke Alexandria kali bisa jadi agenda yang sama sekali tidak kami duga. Saya sendiri mengenal nama beliau baru tahun 2005 yang lalu. ketika itu, saya beberapa kawan melihat pameran kaligrafi tahunan yang diselenggarakan di Opera House akhir Desember 2005. Di mana, tiga karya beliau saat itu kami anggap sebagai simbol pameran dan ‘karya andalan’ di antara karya 11 kaligrafer lainnya. Selain itu, nama beliau yang tertuang dalam tauqi (tanda tangan) sering saya jumpai di sampul-sampul buku, kaset, maupun iklan-iklan.

Kesan yang ada ketika itu, beliau adalah seorang kaligrafer (khattath) seniman, dan designer grafis yang brilian, kaya ide serta mempunyai kreatifitas tinggi. Keinginan untuk ketemu orangnya secara langsung pun mungkin akan sulit. Mengingat kesibukan beliau (seperti yang tertulis di biodata) adalah direktur utama sebuah badan usaha yang bergerak di bidang design grafis, design website dan lainnya dengan nama “Arabasic Design” di Alexandria. Karya-karya beliau tersebar di musium-musim timur tengah. Belum lagi kesibukan sebagai tutor dan pembicara dalam seminar-seminar seni dan kaligrafi yang sering diadakan baik dalam skala nasional maupun Internasional. Selain itu, beliau juga anggota jam’iyyah mashriyyah ‘ammah lil khattil ‘arabiy, jam’iyyah muhammad ibrahim lil khattil ‘arabiy, serta anggota jam’iyyah mashriyyah lil funuun at tasykiliyyah (seni rupa) wa istikhdamat grafik.
Sedangkan dilihat dari background pendidikan. Beliau adalah orang yang mempunyai basic kuat dalam bidang seni dan kaligrafi. Beliau lulusan terbaik se-Alexandria diploma seni jurusan zuhrufah (ornament) dan advertising, tahun 1989. Tahun 1991 kembali beliau lulus dengan nilai terbaik se-Alexandria dalam jurusan yang sama di program lanjutannya. Selanjutnya, pada tahun 1995 beliau menyelesaikan bachelor bidan pengajaran seni dan tarbiyah bidang zuhrufah dan idvertising dengan predikat summa cumloude, dari Universitas Helwan, Kairo.

Berangkat dari kekaguman akan karya-karya yang beliau tuangkan, serta background pendidikan yang memang berangkat dari bidang seni dan kaligrafi, keinginan saya pribadi ingin ketemu dan menimba ilmu kepada Pak Yousry semakin kuat. Tentunya, akan sangat senang bila dapat rahasia-rahasia yang mungkin tidak pernah saya dapati selama ini.





Pucuk di cinta ulam pun tiba
Akhirnya kesempatan pun datang dengan bantuan-Nya. Tepatnya tanggal 01 Oktober 2007 yang lalu, beberapa kawan mengunjungi pembukaan pameran kaligrafi yang diadakan di markas Sa’ad Zaglul ats-Tsaqafy yang berada di museum Baitul Ummah, dekat daerah Tahrir. Sayangnya, saya sendiri karena ada suatu hal, tidak bisa datang. Memang, kesempatan terbesar untuk ketemu para kaligrafer dan seniman adalah saat pembukaan pameran-pameran seperti ini. Maka sayang, jika melewatkan pembukaan pameran!

Ketika itu, Pak Yousry melihat rombongan kawan-kawan Indonesia sedang menikmati karya-karya yang ada. Beliau lantas menyapa dan memperkenalkan diri. Kesempatan untuk pedekate dan bertanya kepada beliau pun terbuka. Karena pertanyaan seputar cara pembuatan karya, beliau menawarkan untuk mencopy DVD-kan rekaman video beliau yang ada di laptop. Sayangnya, kami tidak ada persiapan untuk itu. Namun demikian, pertemuan itu cukup bagi kami untuk bisa mengenal beliau lebih jauh. Dan yang lebih penting, beliau mengenal bahwa di sana ada mahasiswa Indonesia yang ingin belajar darinya. (muhammad nur/ abbasea, cairo, 02/12/2007)

10 Easy Steps to Succeed in Your Online Classes

Congratulations Youve made up our minds to pursue your upper schooling, and doing so online is how to pass if you have an interest in a versatile, studentcentered educating manner. Studying online permits you to pursue different pursuits and attend to different responsibilities whilst nonetheless operating your method towards some extent. However, it will now and again imply that its clean to get distracted. Here are 10 clean steps to verify luck on your online categories.

  1. Connect together with your instructors once conceivable. Even in case you are doing smartly within the category, its extraordinarily vital to increase a rapport together with your trainer. When you do that early on, you temporarily understand what the priorities are within the route, what expectancies the professor has of you and youre going to be motivated to prevail, surer of whats forward and higher ready to do smartly with the impending subject material.

Valuable questions to invite your trainer come with the next

How versatile are you with time limits How versatile are you with grownup freshmen What applied sciences do you employ within the route How to be had are you through e mail and different sorts of verbal exchange How do you put up an internet neighborhood and what are the expectancies for participation in it In addition, since instructors are to be had to lend a hand all over the classes, its all the time just right to have had private touch with the trainer early on. This method, when you wish to have lend a hand, its more straightforward to achieve out and get the help you wish to have.

  1. Confirm the technical necessities of the route. Online categories can also be very advisable for college kids with busy schedules, however provided that they are able to simply get right of entry to the fabrics. It is vital to obviously perceive what the technical necessities are. So, ahead of the route begins or as quickly thereafter as conceivable, youll want to test that your pc will paintings with the entire online equipment, and that you understand how to navigate them. This will be sure that you dont must spend time all the way through the route attempting to determine the generation.

three. Create a time table and stick with it. Quality online instructors create classes which might be clean to navigate and feature transparent expectancies. Having that roughly easytodealwith framework in position will make learning and succeeding that a lot more straightforward. However, although the framework and necessities of your category arent as transparent, youll create a time table and construction, which is able to very much fortify your probabilities of luck within the route. Using equipment equivalent to Google Calendar is a good way to start out. Knowing how your weeks and months glance and scheduling blocks of analysis time for each and every activity or module will will let you stick with a time table.

four. Ask questionsall the time. When you dont perceive, ask questions. When you do perceive, ask additional questions. Instructors recognize scholars who take part, and if theres a participation or dialogue part a part of the grade, then asking high quality questions is helping guarantee your grade on this space. Even if there isnt a participation part, its all the time helpful to invite inquiries to remember to perceive the fabric and are transparent on what is needed of you.

five. Be arrangedand keep arranged. Students whore taking conventional, campusbased classes most often have a constant time table to observe each and every week, through which study room instruction is adopted through assignments out of doors the category. However, for online classes, scholars will have to search out their very own techniques to stick on most sensible in their paintings. It is crucial that you just be arranged from the start of the semester with the intention to achieve success in an internet route. For instance mark task due dates on your calendar, discover a submitting machine for each online subject material and bodily subject material that is helping you stay monitor of the whole lot simply, and shed light on find out about schedules that duvet sections of the route one by one so youve got an arranged tactic to protecting the semesters subject material as you pass alongside.

  1. Have a blank, quiet, and constant workspace. One factor online and inclass classes have in not unusual is that scholars all the time want a spot to review or whole assignments this is blank, quiet, and constant. You can select the place that is for youwhether or not its at a espresso store, a college library, a devoted place of business, or at house. Wherever you select to review and whole assignments, you must make it a constant location that doesnt have out of doors distractions. It is basically key that where is quiet and lets you focal point in your paintings with out distractions.
  2. Do no longer procrastinate. Successful distance freshmen hardly procrastinate. They dont do away with assignments or wait till the final second to write down their papers. Successful online scholars experience freedoms that come with operating at their very own tempo and the facility to finish their paintings in as a lot time because it takes them. On the opposite hand, they know that finishing their assignments is best performed early and on time cramming merely doesnt paintings, and it doesnt will let you retain knowledge longterm. Get began early on getting a success.

eight. Work in your studying comprehension. Successful distance freshmen generally tend to have just right studying comprehension abilities. Most conventional, campusbased scholars concentrate to lectures and take notes, and a few online classes additionally require this. However, the vast majority of distance freshmen are anticipated to grasp subject material thru a large amount of studying. Although far finding out classes be offering video recordings and audio clips, maximum systems require scholars to hide and grasp a considerable amount of written knowledge. If it is a problem for you, it could be very useful to first sign up in a studying comprehension route there are lots of assets online that will help you do that. This ability by myself could make a huge distinction on your luck.

nine. Establish and admire routines that be just right for you. If, for instance, youre employed best within the morning or in brief bursts, then set find out about routines that can help you find out about within the prelunch hours when your mind is contemporary. If, then again, you do best through learning at evening or at the weekends when youll devote nightowl hours or longer blocks in your learning, then make it some degree to take action. Consider how and whilst you paintings best, and enforce a find out about plan that respects the routines that be just right for you.

  1. Connect together with your friends. Establishing sturdy connections with friends and professors is a very powerful facet of tutorial luck, in addition to skilled development. One of essentially the most rewarding reports in schooling is finding out thru collaboration. Forming significant relationships together with your friends and professors can can help you be told extra, keep motivated, and feature an outlet to specific your personal working out of subject material. So, keep attached thru message forums, chat rooms, e mail, and different digital assets. And take note lots of the other people you meet in faculty shall be conceivable process assets down the road so determine connections and keep in contact

Florida National University gives a wealth of tutorial and professional online classes. Check out the entire choicesyour long run is ready